Penguatan Wawasan Maritim dan Budaya Tionghoa dalam Pertemuan MGMP Sejarah SMA/MA Kota Semarang

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMA/MA Sejarah Kota Semarang bekerja sama dengan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kegiatan penguatan wawasan bagi guru sejarah SMA/MA pada Kamis, 30 April 2026, bertempat di SMA Negeri 1 Semarang. Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Wawasan Perjalanan Maritim Etnis Tionghoa dan Tinggalan Budaya bagi Guru MGMP Sejarah Kota Semarang” sebagai upaya memperdalam pemahaman guru terhadap dinamika sejarah maritim dan interaksi budaya di Indonesia. Acara diawali dengan sambutan dari Ketua MGMP Sejarah Kota Semarang, Bapak Khoiri, yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran peserta serta menekankan pentingnya kolaborasi antara MGMP dan perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah.

Memasuki sesi inti, Ibu Ufi Saraswati selaku dosen Ilmu Sejarah UNNES memaparkan materi dengan diawali penegasan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam sejarah dunia karena memiliki rentang sejarah yang lengkap, mulai dari masa prasejarah hingga modern. Ia menekankan bahwa sejarah bukan sekadar hafalan peristiwa, melainkan alat untuk memahami perkembangan manusia melalui kajian masa lampau. Dari sudut pandang geopolitik, Indonesia juga memiliki posisi strategis yang sejak dahulu memengaruhi jalur perdagangan dan interaksi antarbangsa.

Penjelasan kemudian bergerak ke masa awal interaksi antarwilayah, khususnya hubungan antara Nusantara, China, dan India yang telah terjalin sejak sekitar 2.500 tahun yang lalu. Hubungan ini dibuktikan melalui tinggalan budaya seperti Dongson dan Sa Huynh. Pada fase ini, interaksi masih didominasi oleh pertukaran budaya dan jaringan perdagangan awal yang berkembang seiring waktu.

Memasuki masa kejayaan maritim, peran Nusantara semakin terlihat melalui kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit yang menguasai jalur perdagangan laut. Dalam periode ini, pelayaran menjadi faktor utama penghubung antarwilayah. Jalur perdagangan terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu jalur darat (Silk Road) dan jalur laut (Spice Route). Jalur laut inilah yang kemudian banyak melibatkan wilayah Nusantara sebagai titik penting dalam perdagangan rempah-rempah dunia.

Seiring berkembangnya aktivitas perdagangan, pelayaran etnis Tionghoa mengalami tahapan yang semakin kompleks, dimulai dari pelayaran lokal, kemudian berkembang menjadi pelayaran antar pulau dan antar negara, hingga akhirnya mencapai pelayaran internasional lintas benua. Jalur pelayaran utama terbagi menjadi dua, yaitu jalur barat yang meliputi Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Jawa, serta jalur timur yang meliputi Kepulauan Filipina hingga Kalimantan bagian barat. Interaksi yang terjadi di jalur-jalur ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga mendorong terjadinya akulturasi budaya antara masyarakat Tionghoa dan Nusantara.

Akulturasi tersebut menghasilkan budaya baru yang bersifat sinkretis, yaitu perpaduan antara unsur budaya lokal dan budaya Tionghoa. Proses ini berlangsung dalam waktu yang panjang dan membentuk identitas sosial budaya di berbagai wilayah, termasuk di Semarang. Peristiwa sejarah seperti Geger Pecinan kemudian menjadi salah satu titik penting yang mempercepat perpindahan etnis Tionghoa ke wilayah Semarang. Sejak saat itu, Semarang berkembang menjadi kota dengan tingkat keberagaman budaya yang tinggi dan melahirkan berbagai bentuk budaya hasil percampuran tersebut.

Memasuki periode yang lebih dekat dengan masa kini, dinamika hubungan antaretnis juga mengalami tantangan, salah satunya terlihat pada peristiwa tahun 1998 yang menimbulkan trauma sosial bagi sebagian masyarakat Tionghoa. Fenomena ini memunculkan kecenderungan penyesuaian identitas atau mimikri budaya sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi sosial. Dalam perspektif sejarah, hal ini tidak dapat dilepaskan dari kebijakan kolonial seperti divide et impera yang sejak masa penjajahan telah membentuk sekat-sekat sosial di masyarakat.

Dalam sesi diskusi, peserta mengangkat berbagai pertanyaan terkait identitas, stereotip, dan hubungan antara masyarakat pribumi dan etnis Tionghoa. Menanggapi hal tersebut, Ibu Ufi menekankan bahwa dalam sejarah, interaksi manusia tidak pernah bersifat sederhana atau satu arah. Bahkan, ada kemungkinan terjadinya hubungan timbal balik antara Nusantara dan wilayah lain, termasuk pergerakan manusia dari Nusantara ke wilayah Tiongkok. Ia juga menegaskan bahwa seorang sejarawan harus bersikap objektif dan tidak terjebak pada narasi yang menyudutkan kelompok tertentu.

Sebagai penutup, disampaikan bahwa masyarakat Indonesia terbentuk melalui proses panjang migrasi dan interaksi, seperti yang terlihat dari kedatangan Proto Melayu dan Deutero Melayu. Oleh karena itu, sulit untuk membedakan secara tegas antara “pribumi” dan “pendatang,” karena identitas tersebut merupakan hasil dari proses sejarah yang kompleks. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman guru sejarah dalam menyampaikan materi secara lebih runtut, kritis, dan kontekstual kepada peserta didik.

Dokumentasi